Prasasti

Prasasti Congapan: Paduan antara jejak historis dan landskap alam yang Indah

Pulau Jawa, yang merupakan salah satu pulau terpadat di Indonesia, telah menjadi saksi bisu dari peradaban dan kebudayaan yang kaya. Namun, di tengah kemajuan dan modernisasi yang pesat, ada satu tempat di Jember, Jawa Timur, yang menyimpan keajaiban sejarah yang tak ternilai harganya. Prasasti Congapan, dengan semua keunikan dan keindahannya, merupakan bukti nyata dari keberadaan dan kearifan lokal yang berharga.

Prasasti yang oleh penduduk sekitar disebut “Bethoh Pelampean” ini terletak di Dusun Congapan, Desa Karangbayat, Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember. Prasasti dengan tinggi 126 cm dan panjang 280 cm serta lebar 268 cm diperkirakan lebih muda dari prasasti Batu Gong. Pada bagian atas berbentuk dua buah tonjolan, pada bagian atau ujung selatan terdapat pahatan dengan dua wadah (bak) air sedangkan bagian timur terdapat lubang pancuran (Ahmad, 2015). Prasasti ini terpahat pada batu andesit dan berada ditengah sawah milik warga sekitar.

Tulisan prasasti terpahat di sisi bagian utara secara vertikal yang tersusun atas 4 buah aksara dengan bentuk tulisan kuadrat Kediri. Prasasti ini pertama kali ditafsirkan oleh W.F. Stutterheim, (1937), seorang arkeolog Belanda yang juga meneliti Prasasti Watu Gong di Rambipuji. Aksara Pertama yang berdiri atau tegak berbunyi “Sarwwa Hana” atau diartikan “serba ada” atau memiliki makna Dewa Sarrwa atau Dewa Syiwa. Makna dari tulisan Sarrwa Hana ini juga dikaitkan dengan lingkungan alamnya yang subur sehingga cocok untuk ditanami banyak tumbuhan.

Tulisan Kedua terpahat secara horizontal berbunyi “Tlah Sanak Pangilanganku” dengan makna “habis saudara pengilanganku/kehilanganku”. Ahli arkeologi dari Universitas Gajah Mada, M.M. Sukarto Kartoatmodjo, menafsirkan tulisan “tlah Sanak Panggilanganku” ini sebagai sebuah kronogram atau candrasengkala yang menunjukkan angka tahun tertentu. istilah “tlah” atau habis melambangkan angka 0 atau kosong, “sanak” atau saudara melambangkan angka 1, “hilang” atau “moksa” melambangkan angka 0, sedangkan “aku” melambangkan angka 1. Jadi, sesuai dengan urutan atau susunan kronogram, maka angka itu harus dibaca dari belakang menjadi 1010 Saka atau 1088 Masehi yang diduga merupakan tahun pembuatan prasasti ini.

Menurut Zainollah Ahmad (2015) prasasti Congapan diduga merupakan peninggalan dari penguasa Kerajaan Jenggala dari dinasti Isyana atau keturunan Mpu Sendok yaitu Raja Samarotsaha pada tahun 1059 M. Keterangan ini berdasarkan sumber Prasasti Semengka pada tahun 1059 M yang dibuat oleh raja Samarotsaha berkaitan dengan kegiatan raja dalam mengadakan perjalanan lawatan Suci atau atau “Tirthayatra” ke Jawa bagian timur. Generasi penerus Airlangga yaitu Raja Samarotsaha pada tahun 1059 Masehi pernah membuat Desa Semengka sebagai daerah Sima atau perdikan atau “swatantra” berupa Anugrah Raja sebagai apresiasi kepada pemuka desa yang berjasa memperbaiki saluran air.

Prasasti Congapan yang dibuat dengan dilengkapi pancuran dan bak air erat berkaitan dengan Tirta Amerta atau air suci keabadian sebagai simbol tradisi ritual Hindu. Prasasti yang berada di tepi sungai Sampean ini diduga adalah wilayah yang vital dalam keberlangsungan hidup masyarakat pada masa itu. Lereng Gunung Argopuro dengan jalur menanjak terjal dan jalan berat yang dulunya dilintasi perjalanan “tirtayathra” para raja masa Hindu yang beraliran Siwa. Sementara menurut Swastika (2020) Prasasti Congapan merupakan jejak peninggalan berlatar keagamaan yang periodenya berhimpitan dengan kebudayaan Megalitik. Bahkan kebudayaan Hindu dan kebudayaan Megalitik diduga pernah hidup sewaktu, berdampingan, dan tidak menutup kemungkinan saling pengaruh-mempengaruhi atau bersatu padu dalam bingkai akulturasi budaya.

Saat ini, pada tahun 2023, kondisi Prasasti Congapan cukup memprihatinkan, tulisan yang terpahat di dinding prasasti mengalami aus karena proses alam seperti panas dan hujan. Prasasti ini masih kokoh di tengah persawahan penduduk tanpa ada bangunan yang melindunginya dari proses alam yang menyebabkan musnahnya tulisan prasasti tersebut. Tidak adanya bangunan pelindung disebabkan belum adanya perhatian dan upaya dari dinas pemerintah terkait untuk merangkul masyarakat sekitar sebagai pemilik lahan sawah tempat Prasasti Congapan berdiri. Upaya Konservasi masih terus diperjuangkan oleh pemerintah desa dibantu oleh komunitas pemuda setempat.

Ulasan singkat di atas memberikan gambaran bahwa Prasasti Congapan tidak hanya menarik karena historisitas melainkan juga landskap alam sekitarnya dan memiliki daya tarik tersendiri. Prasasti ini menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang dan perubahan yang dialami oleh Jember. Tidak hanya memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi, Prasasti Congapan juga memiliki potensi sebagai daya tarik pariwisata. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat dapat bekerja sama untuk mengembangkan fasilitas pariwisata di sekitar prasasti ini. Dengan mempromosikan keindahan dan nilai sejarah Prasasti Congapan, Jember dapat menarik minat wisatawan untuk datang dan mempelajari lebih lanjut tentang sejarah dan budaya lokal.

Prasasti ini merupakan salah satu peninggalan masa Hindu-Buddha yang sangat penting bagi kabupaten Jember mengingat jumlah jejak sejarah pada era ini sangat sedikit. Dengan menjaga dan menghormati Prasasti Congapan, kita dapat meneruskan warisan berharga ini kepada generasi mendatang dan memperkaya identitas lokal kita.

Daftar referensi:

Ahmad, Z. 2015. Topographia Sacra: Menelusuri Jejak Sejarah Jember Kuno. Yogyakarta. Araska.
Nugroho, D. S., & Darsono, A. (2015). Eksistensi Epigrafi di Lingkungan Keraton Yogyakarta: Studi tentang Beberapa Prasasti Abad ke-17 dan ke-18. Jurnal Sejarah Citra Lekha, 2(1), 23-35.
Swastika, K. (2020). Kebudayaan Megalitik di Dataran Tinggi Iyang-Ijen. Yogyakarta:LaksbangPress
Soekmono, R. (1995). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Kanisius.
Trikuncarini, S., & Saputro, E. B. (2019). Kajian Epigrafi Prasasti Koleksi Museum Daerah Jember. ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur, 4(2), 155-162.

Scroll to Top